Jumat, 18 Mei 2012

Tazkyatun Nufus : Mensucikan Jiwa Dalam Ajaran KH Ahmad Dahlan رَحمَهُ اللهُ

Fathurrahman Kamal, Lc., MA

Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam FAI-UMY

Lembaga Pendidikan Bahasa Arab & Studi Islam “Ali Bin Abi Thalib”


Mukaddimah

KRH Hadjid, alumnus Pondok Pesantren Termas sekaligus murid termuda KH Ahmad Dahlan, menulis 7 falsafah ajaran dan 17 kelompok ayat Al-Qur’an yang menjadi pokok wejangan dan pelajaran dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah kita. Beliau berkeyakinan bahwa berbagai kesulitan yang timbul dalam masyarakat dapat diatasi dengan ketujuh falsafah tersebut sebagaimana ketujuh belas kelompok ayat Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai pegangan pokok oleh para pewaris Muhammadiyah yang tidak sedikit diantara mereka telah meninggalkan jiwa/ruhiyah Muhammadiyah itu sendiri.[3]

Tujuh falsafah ajaran yang dimaksud ialah; (1) Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali untuk bertaruh: sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?; (2) Kebanyakan diantara manusia berwatak angkuh dan takabbur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri; (3) Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk diubah. Sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik itu dari sudut keyakinan atau i’tikad, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar; (4) Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama menggunakan akal fikirannya untuk memikirkan, bagaimana sebenarnya hakekat dan tujuan manusia hidup di dunia. Apakah perlunya? Hidup di dunia harus mengerjakan apa? Dan mencari apa? Dan apa yang dituju?. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal i’tikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran sejati. Karena kalau hidup di dunia hanya sekali ini sampai sesat, akibatnya akan celaka dan sengsara selama-lamanya.”Adakah engkau menyangka bahwasanya kebanyakan manusia suka mendengarkan atau memikir-mikir mencari ilmu yang benar.” Al-Furqan : 44;

Berikutnya, (5) Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam, membaca beberapa tumpuk buku…Sekarang, kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir kalau menetapi kebenaran, akan terpisah dari apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya. Pendek kata, banyak kekhawatiran itu yang akhirnya tidak berani mengerjakan barang yang benar, kemudian hidupnya seperti makhluq yang tak berakal, hidup asal hidup, tidak menempati kebenaran; (6) Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah; (7) Pelajaran terbagi atas dua bagaian: belajar ilmu, pengetahuan atau teori dan belajar amal, mengerjakan atau mempraktekkan. Semua pelajaran harus dengan cara sedikit demi sedikit, setingkat demi setingkat…Demikian juga dalam belajar amal, harus bertingkat. Kalau setingkat saja belum dapat mengerjakan, tidak perlu ditambah.

Adapun 17 kelompok ayat Al-Qur’an yang menjadi pokok wejangan dan pelajaran dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai berikut; (1) Membersihkan diri sendiri, Al-Jâtsiyah ayat 23; (2) Menggempur hawa nafsu mencintai harta benda, al-Fajr ayat 17-23; (3) Orang yang mendustakan agama, al-Mâ’ûn ayat 1-7; (4) Apakah artinya agama itu, al-Rûm ayat 30; (5) Islam dan sosialisme, al-Tawbah ayat 34-35; (6) Surat al-‘Ashr ayat 1-3; (7) Iman/kepercayaan, al-‘Ankabût ayat 1-3; (8) Amal sholeh, al-Kahf ayat 110 dan al-Zumar ayat 2[4]; (9) Wa tawâshaw bil haqq, Yûnus ayat 108, al-Kahf ayat 29, Muhammad ayat 3, al-An’âm ayat 116, al-Furqân ayat 44, al-Anbiyâ’ ayat 24, Yûnus ayat 32, al-Shaff ayat 9, al-Baqarah ayat 147, al-Anfâl ayat 8, al-Isrâ’ ayat 81 dan al-Mu’minûn ayat 70; (10) Wa tawâshaw bish-shabri; (11) Jihad, Âli ‘Imrân ayat 142; (12) Wa anâ minal muslimîn, al-An’âm ayat 162-163; (13) Al-Birru, Âli ‘Imrân ayat 92; (14) Surat al-Qâri’ah ayat 6-11; (15) Surat al-Shaff ayat 2-3; (16) Menjaga diri, al-Tahrîm ayat 6; dan terakhir (17) Apakah belum waktunya, surat al-Hadîd ayat 16.

Demikianlah ketujuh falsafah ajaran dan tujuh belas kelompok ayat al-Qur’an yang selalu ditekankan oleh Allâh Yarhamuhu KH Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya. Pada makalah tadabbur al-Qur’an ini kami hanya menyampaikan kelompok pertama yaitu “tazkyatun nufus”, bagaimana seharusnya kita membersihkan diri/jiwa dalam ajaran Mu’assis/Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah kita ini.


Munthalaq (start point) : Tafsir Surat Al-Jâtsiyah Ayat 23

Sebagai murid yang baik, yang tidak ingin kehilangan kilauan mutiara kehidupan gurunya, KHR Hadjid selalu menyelidiki apa yang menjadi pikiran dan renungan serta membuat masygul KH Ahmad Dahlan siang dan malam. Sampai pada suatu ketika beliau menemukan papan tulis kecil di atas meja sang guru. Di sana tertulis petikan al-Qur’an, surat al-Jatsyah ayat 23 berikut ini :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ[5]

Tim Ulama yang menyusun Al-Tafsir Al-Muyassar menyatakan, ayat tersebut mengandung pesan utama agar orang-orang mukmin waspada jika hawa nafsu menjadi pendorong atau motivator mereka dalam beramal dan berkarya.[6]Menurut Al-Imam Al-Thabari, ayat tersebut menjelaskan orang-orang yang menjalankan agamanya dengan hawa nafsu. Ia tidak beriman dengan Allah SWT, tidak pula menghalalkan ataupun mengharamkan sesuatu berdasarkan ajaranNya; hawa nafsu oriented. Sehingga dapat ditegaskan bahwa orang seperti ini menjadikan hawa nafsu sebagai agamanya.[7] Hal senada dinyatakan oleh Ibnu Abbas, Hasan dan Qatadah radliallahu ‘anhum, sebagaimana dinukil oleh Al-Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an. Sementara ‘Ikrimah radliallah ‘anhu berpendapat, ayat tersebut mengisyaratkan orang yang menyembah sesuatu sesukanya, atau yang dianggap baik. Abu Darda’radliallah ‘anhu berkata[8],

إذا أصبح الرجل اجتمع هواه وعمله وعلمه فإن كان عمله تبعا لهواه فيومه يوم سوء وإن كان عمله تبعا لعلمه فيومه يوم صالح[9]

Demikianlah makna firman Allah SWT dalam Al-Jatsiyah : 23 yang dikemukakan oleh sebagian mufassir terkemuka. Menurut penulis, masih diperlukan penafsiran yang lebih ‘tajam’ dan ‘menukik’ untuk membangkitkan spirit dan ruhiyah kita. Barangkali di sinilah letak ketajaman makna ayat tersebut dalam pandangan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, ayat tersebut mengandung makna dan ajaran sebagai berikut :

1) Kita dilarang untuk menghambakan diri kepada siapapun atau benda apapun jua, kecuali kepada Allah SWT. Orang yang menghambakan diri kepada hawa nafsunya, mengerjakan apa saja yang menjadi dorongan hawa nafsunya dapat dikategorikan sebagai musyrik. Kaum musyrikin menyembah berhala karena taqlid buta kepada orang tua dan nenek moyang mereka. Ini bermakna mereka menjadi hamba dari hawa nafsunya, patuh mengikuti perilaku kebiasaan yang menyimpang dalam lingkungan dan masyarakat mereka.

2) Siapa saja yang tunduk/taat dan berbuat mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan hukum Allah SWT juga dapat disebut sebagai penyembah hawa nafsu. Karena jelas, kita tidak diperbolehkan secara syar’iy untuk mencintai siapapun jua di atas cinta kasih kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal sedemikian ditegaskan pula oleh Allah SWT dalam surat al-Taubah ayat 24 :

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [10]

Juga dalam surat al-Baqarah : 165

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ [11]

3) Berhala hawa nafsu merupakan pokok berhala yang menyesatkan. Pengaruhnya sedemikian kuat dan merajalela. Hawa nafsu mematikan kemampuan dan potensi manusia untuk membedakan antara al-Haqq dan al-Bathil. Bahkan manusia bertabiat sebagai hewan karena terjajah oleh hawa nafsu tersebut. Dalam pemenuhan cinta terhadap hawa nafsunya, manusia seringkali lupa akan akibat dan malapetaka yang ditimbulkannya, lupa akan akibat-akibat buruknya. Manusia berbuat semaunya, mengabaikan tatanan etis dan moral. Inilah yang kemudian melahirkan kekacauan, kerusakan dan kerugian kepada dirinya sendiri, masyarakat dan negaranya.[12]

Dalam berinteraksi dengan hawa nafsu, yang seringkali menjadi abstrak di hadapan kita sehingga kita kehilangan stamina untuk menatanya, KH Ahmad Dahlan secara tegas mengidentifikasikannya sebagai “musyrik” !. Sebagian di antara kita mungkin akan berkomentar, “ekstrem” (?).

Perlu dicatat, umat Islam, pada umumnya, sangat familiar dengan dua jenis syirik; akbar dan ashghar. Mereka, atau juga kita, kurang akrab dengan jenis syirik yang satu ini; al-syirk al-khafiyy. Syirik jenis terakhir ini lebih dominan pada aspek niat dan orientasi yang terselubung. Oleh karena itu disebut sebagai “al-khafiyy” (yang tersembunyi). Rasulullah SAW mengilustrasikannya sebagai orang yang “salah niat”.[13] Dalam Ilustrasi lain dinyatakan sebagai sesuatu yang lebih samar dari langkah seekorsemut hitam, di atas batu karang hitam yang bisu.[14] Motivasi beramal yang “hanya” berorientasi dunia samata juga dikecam oleh Rasulullah SAW dalam sabda berikut ini:

تعس عبد الدينار وعبد الدرهم وعبد الخميصة إن أعطي رضي وإن لم يعط سخط

“Celakalah penghamba dinar. Celakalah penghamba dirham. Celakalah penghamba khamishah jika ia diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”(HR Bukhari).

Khamishah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan sulaman atau garis-garis yang menarik dan amat indah. Pesan moral dalam hadis di atas ialah teguran keras terhadap orang-orang yang sangat ambisius dengan kekayaan duniawi, sehingga ia terbelenggu dan menjadi penghamba harta benda. Mereka, tegas Nabi SAW, adalah berhak untuk celaka dan sengsara. Bandingkan dengan kisah tiga orang yang diadili oleh Allah SWT; seorang qari’/intelek, seorang yang mati syahid dan seorang dermawan. Ketiganya bangga dengan prestasi hidupnya masing-masing. Tapi pada akhirnya, final kehidupan mereka mengenaskan : dicampakkan ke neraka!(HR Muslim).[15] Na’udzubillah.

Penafsiran KH Ahmad Dahlan tersebut menarik untuk disandingkan dengan penafsiran Sayyid Qutb rahimahullah. Gaya redaksional yang sangat pada ayat tersebut, menurutnya, menggambarkan satu ilustrasi yang aneh bagi jiwa manusia ketika jiwa itu meninggalkan asal yang pasti, untuk kemudian mengikuti hawa nafsu yang berubah-ubah. Hal itu terjadi ketika ia menyembah hawa nafsunya, tunduk kepadanya, dan menjadikannya sebagai sumber pola pandang, hukum, perasaan dan gerakannya. Juga menjadikannya sebagai tuhan yang yang memiliki otoritas, yang menguasai dirinya, lalu menerima segala isyarat yang diberikannya lalu ia taat, tuntuk dan menerimanya begitu saja. Oleh karena itulah kemudian, gaya bahasa Al-Qur’an mengingkarinya dengan nada penuh keheranan, “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…”

“Pernahkah kamu melihatnya?”, gugah Sayyid Qutb rahimahullah. “Ia adalah sosok yang aneh yang pantas dianggap aneh!. Dan ia berhak disesatkan oleh Allah SWT, dan tak memberikannya rahmat berupa petunjuk. Tak ada tempat yang tersisa bagi petunjuk dalam hatinya, ketika ia mempertuhankan hawa nafsunya yang sakit!”.

وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَة فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [16]

Orang yang mempertuhankan hawa nafsunya, dalam pandangan Sayyid Qutb rahimahullah, pantas untuk disesatkan. Sesuai dengan Ilmu Allah yang Maha Benar. Ia tidak dihalangi untuk memperturutkan segala kehendak hawa nafsunya, lalu ia dibiarkan dalam kebutaannya. Tersumbatlah segala potensi jasadiah dan ruhiyahnya untuk menangkap cahaya petunjuk Ilahi. Demikian pula potensi intelektual yang melekat pada dirinya menjadi tumpul tak bermakna oleh karena ketaatan, ketundukan dan penyerahan totalitas dirinya kepada hawa nafsu tersebut.[17]

Ilustrasi lebih unik tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya dapat dilihat pada kisah Bal’am Ibnu Ba’ura sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnu Katsir dala Tafsir al-Qur’anil Adzhim. Bal’am adalah seorang sahabat dan kolega dekat Nabi Musa ‘alaihissalam, yang dianugerahi oleh Allah SWT pemahaman ayat-ayatNya yang luar biasa. Ia memiliki integritas moral dan intelektual yang sedemikian tinggi di tengah masyarakat Nabi Musa saat itu. Ia sangat dihormati dan disegani. Oleh sebab itu pula kemudian Nabi Musa alaihissalam memberikan kepercayaan kepadanya untuk menyampaikan dakwah kepada Penguasa Madyan.

Penguasa Madyan sangat paham akan kapasitas dan integritas yang disandang oleh Bal’am Ibnu Ba’ura. Tapi juga ia sangat mengetahui bahwa Bal’am bukanlah tergolong orang kaya. Dari sisi materi ia memiliki keterbatasan yang sangat nyata. Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa Madyan untuk memperdayakannya. Ia dipersilahkan untuk tinggal di istana dengan berbagai fasilitas hidup, yang barangkali, belum ia rasakan sebelumnya. Apa yang terjadi? Hari demi hari, ia terlelap dengan kemegahan dan keindahan hidup di tengah-tengah penggede istana. Ia lupa menyampaikan dakwah yang telah diamanahkan oleh Nabi Musa alaihissalam. Ekstremnya, ia pada akhirnya keluar dari ajaran Nabi Musa alaihissalam, dan kemudian bergabung dengan penguasa Madyan untuk melawan dan memusuhi Nabi Musa ‘alaihissalm. Hal inilah yang meletarbelakangi [sabab nuzul] ayat ke 175-176 dari surat al-A’raf[18]. Ilustrasi unik, digambarkan sebagai seekor anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.Na’udzubillah. Lalu, Di mana posisi kita, dahulu, sekarang dan di masa yang akan datang ?


Kegelisahan Ruhiyah/Spiritual KH Ahmad Dahlan


Namun demikian, KH Ahmad Dahlan menjelaskan pula bahwa, asal mula kelahiran manusia adalah berdasarkan “fitrah”, asal yang suci, murni dan bersih [bebas dari angkara murka dan kejahatan]. Lalu ia dipangaruhi oleh hawa nafsunya, orang tua, lingkungan pergaulan, guru, rumah tangga serta masyarakat sekitarnya. Inilah proses yang pada akhirnya manusia tertawan oleh hawa nafsunya sendiri.[19] Penjelasan tersebut sesuai dengan hadis Nabi SAW berikut :

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ اْلفِطْرَةِ فَأَبـَوَاهُ يـُهَـوِّدَانِهِ أَوْ يُـنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُـنْتِجُ اْلبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ (رواه البخاري)

Kalaulah, pada awal mulanya, manusia terlahirkan dalam keadaan “fitrah” sebagaimana diterangkan di atas, lalu mengalami pergeseran kepada keburukan, bahkan menyamai hewan yang tidak memiliki potensi akal, mungkinkah mereka kembali kepada “fitrah” yang awal itu? Jika memungkinkan, bagaimanakah cara menuju kepada kesucian itu?

Dalam hemat pandangan kami, inilah yang menjadi kegelisahan “ruhiyah” atau perenungan ”spiritual” KH Ahmad Dahlan, yang menurut riwayat KHR Hadjid, menjadikan beliau masygul merenungkannya siang dan malam. Tapi juga pada saat yang sama menjelma menjadi kekuatan ruhiyah yang dahsyat, menembus relung jiwanya yang terdalam serta membangkitkan kekuatan dan iradah untuk beramal.

Tazkyatun Nufus Sebagai Metode Menemukan Kembali Fitrah Yang Hilang

Setelah melakukan tafakkur, muhasabah dan muraqabah akhirnya KH Ahmad Dahlan berpendapat bahwa untuk menemukan kembali fitrah yang hilang kita dituntut untuk melakukan pensucian diri/jiwa (tazkyatun nufus). Hal ini dapat dilakukan dengan cara melawan hawa nafsu kemudian hanya tunduk kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Inilah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Takwa kepada Allah merupakan pangkal segala kebaikan sebagaimana memperturutkan hawa nafsu menjadi pangkal segala keburukan[20]

Menurut KH Ahmad Dahlan, melawan hawa nafsu yang ada pada diri kita masing-masing tidaklah dapat dilakukan, kecuali dengan membuang jauh-jauh dari diri kita segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. “Setelah kita mampu membersihkan diri dari khurafat, dapat membandingkan dalil-dalil sehingga dapat mengerti Islam dengan sebenarnya, mengerti sunah-sunah Rasulullah SAW”, kata beliau, “Belum tentu kita dapat menjalankan ajaran-ajaran al-Qur’an jika hawa nafsu di dalam hati masih menjadi berhala.”

KH Ahmad Dahlan mengajarkan dan mendidik kita untuk membuang segala kebiasaan yang ada dalam diri sendiri, dalam rumah tangga dan masyarakat yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Beliau juga menegaskan perlunya melakukan muhasabah dalam segala sesuatu, baik itu menyangkut perkara aqa’id, ikhlas karena Allah SWT maupun perkara-perkara amaliah. Kebersihan jiwa akan terwujud bila kita mempu membuang segala kebiasaan buruk itu.[21]

Penjelasan tersebut sepadan dengan pernyataan Imam Al-Ghazali. Kata beliau dalam kitabnya “Mengobati Penyakit Hati” :

“Mengobati jiwa yang sakit adalah dengan jalan menghilangkan tabiat rendah dan akhlaq-akhlaq buruk, serta mengisinya dengan keutamaan dan budi yang mulia. Sama halnya dengan mengobati tubuh dari suatu penyakit dan menjadikan tubuh sehat dan segar bugar…Setiap anak yang baru dilahirkan, ia pasti dalam keadaan normal jiwanya, sehat fitrahnya serta masih murni dan bersih dari segala pengaruh. Tetapi akhirnya kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi penganut agama Yahudi, Nashrani, Majusi dan lain-lain. Ini tentu karena adanya hasil kebiasaan, pendidikan, dan pengajaran atau pergaulan yang menyebabkan anak tadi menjadi gemar melakukan sifat-sifat kerendahan dan bahkan tidak segan melakukannya.”[22]

Fluktuasi Jiwa dan Metode Tazkyatun Nufus Menurut KH Ahmad Dahlan


Manusia bukanlah Malaikat, sehingga ia terus menerus melakukan ketaatan. Bukan pula Syithan yang totalitas kehidupannya dalam kemaksiatan kepada Allah SWT. Manusia berada di antara daya tarik kedua makhluk tersebut.

Sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah SWT yang azali [taqdir kawniy] bahwa manusia dianugerahkan dua potensi yang antagonis pada dirinya yang satu; potensi taqwa dan potensi fujur. Kedua potensi ini terus dan selalu berkompetisi yang kemudian melahirkan fluktuasi keadaan jiwa manusia. Tapi juga Allah SWT memberikan isyarat yang tegas bagaimana sebaiknya manusia memenej potensi tersebut. Hal ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat al-Syams ayat 7-10 :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.[23]

Dalam berinteraksi dengan kedua potensi yang bertolak belakang tersebut manusia secara garis besarnya akan mengalami tiga keadaan berikut ini; pertama, jika Takwa lebih dominan daripada fujur kecenderungannya ialah dzikrullah[24] dan inilah yang disebut Al-Nafs al-Muthma’innah[25]; kedua, Takwa seimbang dengan fujur berorientasi kepada sikap mengutamakan akal[26]. Inilah Al-Nafs al-Lawwâmah[27]; ketiga Al-Nafs al-Ammârah bi al- Sû[28] yang merupakan potret dominannya Fujur daripada takwa dan berorientasi kepada syahwat, nafsu, hedonis[29]

Tidak satupun diantara kita selamat dari fluktuasi tiga keadaan jiwa tersebut, kecuali dengan curahan rahmat Allah SWT. Bahkan Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam dengan tulus mengakui betapa daya tarik nafsu/fujur itu sangat kuat. Hal ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam ayat berikut ini :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ [30]

Wujud rahmat Allah SWT kepada kita adalah diturunkannya syari’at yang menata hubungan kita denganNya, interaksi sesama dan juga hubungan kita dengan alam semesta ini. Dalam hemat penulis, sistem syariat inilah yang dijadikan oleh KH Ahmad Dahlan sebagai titik tolak/munthalaq dalam merumuskan metode dan jalan pensucian diri/jiwa, tazkyatun nufus. Allah SWT berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى. بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى [31]

Berdasarkan ayat ini, KH Ahmad Dahlan merumuskan tiga metode, jalan pensucian jiwa (tazkyatun nufus) yaitu; Dzikrullah, Menunaikan shalat dan Mengingat kedahsyatan Al-Yaum al-Akhir [kehidupan akherat].[32]

1) Jalan pertama : Dzikrullah

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [33]

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini, “Belumkah datang saatnya agar hati orang-orang yang beriman itu menjadi lembut ketika berdzikir dan medapatkan mau’idzah, juga ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an, lalu mereka memahaminya, atuh serta mentaatinya.”[34]

Abdullah ibn Mas’ud RA berkata :

ما كان بين إسلامنا وبين أن عوتبنا بهذه الآية إلا أربع سنين (رواه مسلم)

KH Suprapto Ibnu Juraimi, guru kita yang populer dengan rihlah dakwahnya, menerangkan bahwa berdzikir dan bertasbih adalah bentuk amal shaleh yang merupakan saluran dan jembatan dari nurani, dan ada beberapa amalan tersendiri yang mampu menjembatani dan menyalurkan kita pada tingkatan yang lebih tinggi dan tertinggi. Orang yang berhasrat sangat untuk menjadikan kalbunya bercahaya terang, namun ia tidak memiliki wiridan atau dzikir, berarti ia tidak melakukan usaha untuk mencapai tingkatan-tingkatan itu.[35]

Al-Imam Al-Ghazali berkata :

“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali (keselamatan) dalam pertemuan dengan Allah SWT. Tidak ada jalan untuk bertemu denganNya kecuali kematian seorang hamba dalam keadaan cinta kepadaNya, juga mengenal hakekatNya. Sungguh cinta dan keakraban takkan tercapai kecuali dengan senantiasa tafakkur tentang berbagai ciptaan, sifat-Sifat dan perbuatanNya. Di alam wujud ini, yang ada hanyalah Allah SWT serta perbuatan-perbuatanNya. Kita tak kan dapat berdzikir dan tafakkur kecuali dengan berpisah dari syahwat-syahwat dunia, dan mengambil darinya sebatas keperluan saja. Semua itu tak kan juga tercapai kecuali dengan meluangkan sebagian waktu malam dan siang untuk menunaikan dzikrullah.”[36]

Dzikir menurut KH Ahmad Dahlan dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut; mengingat dan menghayati sifat-sifat Allah yang agung (asma’ wa shifat); mengingat dan tafakkur terhadap ayat-ayat Allah SWT; mengingat dan mensyukuri segala nikmat Allah SWT; menyebut Asma’ dan shifat Allah SWT dengan lisan; dzikir dengan qalbu : dzikir kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh, melupakan segala sesuatu selain dariNya, sehingga seolah-olah kita melihatNya; dzikir kepada Allah SWT dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring di segala tempat dan waktu; memulai aktifitas : بسم الله الرحمن الرحيم ; dalam menghadapi kesulitan menyebut tahlil : لاإله إلا الله; menerima kenikmatan Allah dengan menyebut : الشكر لله; melihat sesuatu yang haram : سبحان الله; ketika berbuat dosa : أستغــفرالله; ketika mendapatkan musibah : إنا لله وإنا إليه راجعون / حسبنا الله ونعم الوكيل; ingat akan qadla dan qadar Allah SWT : توكلت على الله ; terhadap ajakan taat atau godaan maksiat : لاحول ولا قوة إلا بالله

Selain dari beberapa macam dzikir tersebut, dapat pula melakukan pembacaan wirid yang telah ditulis oleh para ulama terkemuka yang berdasarkan pada hadis-hadis yang shahih/maqbul. KRH Hadjid meriwayatkan bahwa KH Ahmad Dahlan seringkali mengajarkan do’a-do’a dan wirid kepada murid-muridnya.

2) Jalan kedua : Menunaikan shalat.

Cara membersihkan jiwa dari hawa nafsu juga dengan memperbanyak shalat seperti shalat wajib 5 waktu. Shalat-shalat sunah seperti shalat qabliyah dan ba’diyah, shalat tahajjud, witir, istkharah, idul fitri, idul adlha, shalat gerhana bulan/matahari, istisqa’i dan lain-lain sebagaimana banyak dijelaskan dalam kitab Fikih.

Shalat merupakan sarana terbesar menuju kesucian jiwa, dan pada saat yang sama ia menjadi ukuran dan bukti dalam tazkyatun nufus. Shalat mempertajam makna ‘ubudiyah, tauhid dan syukur. Penegakan shalat secara sempurna dapat memusnahkan segala bentuk kesombongan diri dan ketertipuan diri (ghurur). Shalat mencegah segala bentuk kekejian dan kemunkaran (Al-‘Ankabut : 45).[37]

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْــــــهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُــونَ

Rasulullah SAW mengilustrasikan seseorang yang menunaikan shalatnya dengan baik seperti orang yang di depan rumahnya ada sungai. Lalu ia mandi sebanyak lima kali.”Apakah kotorannya masih tersisa di badannya?”, tanya beliau kepada sahabat-sahabatnya. “Tidak, wahai Rasulullah!.” Lanjut Nabi SAW,”Demikian halnya dengan shalat, dengannya Allah SWT menghapus segala kesalahan.”[38]

Selain itu dapat pula mentadabburi al-Qaur’an ketika menunaikan shalat. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Thaha ayat 14 :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي [39]

Ajaran KH Ahmad Dahlan untuk tadabbur Al-Qur’an ketika shalat, dapat mengoptimalkan kehadiran hati serta meningkatkan daya khusyu’ kita.

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا. وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا[40]

3) Jalan ketiga : Mengingat mati & kedahsyatan Al-Yaum al-Akhir.

Pada titik penghayatan terdalam seseorang yang beragama, apapun agamanya, ada pertanyaan “benarkah hidup itu bermakna?.

Aliran hedonisme menganggap hidup bermakna selama ia memberikan kenyamanan dan kenikmatan. Oleh karena itu mereka yang meyakininya sangat getol mengarahkan segala aktivitasnya untuk mengejar kenikmatan duniawi semata. Jelas, pandangan ini tidak sejalan dengan ajaran luhur agama, karena kaum hedonis memberikan harga dan makna hidup sebatas pada capaian nikmat fisik. Tentunya durasi kenikmatan fisik, betapapun kemegahannya, amatlah terbatas.

Lain lagi dengan aliran nihilisme. Aliran ini menyatakan bahwa manusia tak ubahnya seperti hewan ataupun benda lain yang semuanya berakhir ketika seseorang itu meninggal. Daya hidup mirip batu baterai pada hand-phone yang ketika habis setrumnya, maka semua system yang rumit itu tidak bisa bekerja lagi. Jadi, berbagai pikiran, imajinasi, harapan, dan keyakinan tentang nilai-nilai luhur maupun kehidupan akherat kesemuanya itu hanyalah ilusi belaka.

Hidup, menurut aliran ini, akan bermakna selama kita beri makna, namun hanya berlaku sebatas kehidupan di dunia ini. Ciri terdekat pemeluk nihilisme ialah menyandarkan makna hidup pada rasa dan keperihatinan kemanusiaan. Oleh karena itu mereka, tampaknya, sangat getol memperjuangkan nasib orang-orang tertindas, memperjuangkan HAM, perbaikan lingkungan, namun tak ada kaitannya dengan iman.[41] Jadi, kedua etika humanisme sekuler ini, pada tataran zahirnya tampak simpatik. Namun keduanya kosong orientasi ukhrawy. Ia menjanjikan kenikmatan jasmani, tapi hampa pada dimensi ruhani.

Berbeda dengan ajaran Islam. Kedua aliran tersebut di atas, dengan alasan apapun, tidak dapat dibenarkan, meskipun ada sisi baik yang ditampakkannya. Islam mengajarkan bahwa kehidupan hakiki dan abadi ialah kehidupan akherat. Dunia menjadi ladang investasi dan medan berkarya untuk meraik kehidupan yang kekal itu. Dunia bukan tujuan, melainkan sebuah ruang transit, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke negeri akherat. Di sini, mati bermakna sebagai gerbang menuju kampung abadi. Juga menjadi pintu pertemuan kita dengan Sang Khaliq, Dzat Pencipta kita. Di sini pula, Rasulullah SAW melantunkan satu bagian dari do’a panjang beliau, “Ya Allah, anugerahi aku rasa rindu dan cinta untuk segera bertemu dengan Dzat-Mu Yang Maha Agung.”

Dalam pandangan penulis, KH Ahmad Dahlan memandang hidup dan mati seperti itu. Bagi beliau, mati adalah bahaya besar, tetapi lalai dan lupa akan kematian merupakan melapetaka yang jauh lebih besar. Oleh karena itu manusia hendaknya segera ‘membereskan’ segala urusannya, entah itu hablun minallah ataupun hablun minannas. Kepada teman-temannya beliau berpesan :

“Lengah, kalau terlandjur terus menerus lengah, tentu akan sengsara di dunia dan acherat. Maka dari itu djangan sampai lengah, kita harus berhati-hati. Sedangkan orang jang mentjari kemuliaan di dunia sadja, kalau hanya seenaknya tidak sungguh2 tidak akan berhasil, lebih-lebih mentjari keselamatan, kemuliaan di acherat. Kalau hanya seenaknja, sungguh tidak akan berhasil.”[42]

Di lain kesempatan beliau berkata :

“Bermatjam-matjam tjorak ragamnya mereka mengadjukan pertanjaan tentang soal2 agama. Tetapi tidak ada satupun jang mengadjukan pertanjaan demikian :’Harus bagaimanakah supaja diriku selamat dari api neraka?Harus mengerdjakan perintah apa?Beramal apa?Mendjauhi dan meninggalkan apa?’.”[43]

Dari sini, tampak bahwa dorongan kematian menduduki posisi istimewa dalam pandangan beliau tentang makna kehidupan. Mati ditafsirkan sebagai sesuatu yang positif. Keyakinan inilah yang kemudian yang melahirkan energi dan stamina ruhiyah dahsyat pada diri beliau untuk berbuat dan berkarya nyata.

Tentang kesucian jiwa yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya, KH Ahmad Dahlan masih menggugah kesadaran. Apakah “kesucian diri” sebatas klaim semata? Bukankah orang-orang Hindu, Budha dan Nasrani juga mengakui hal serupa? “Apakah kamu seperti mereka?”, kata KH Ahmad Dahlan menggugah murid-muridnya.[44] Baginya, tazkyatun nufus mesti diaktualisasikan dalam kesalehan sosial. Tidak boleh berhenti pada level individu semata.

Beliau juga menyatakan kepada mereka, dan juga kepada kita semua saat ini, “Bahkan kamu masih terpengaruh kehidupan dunia, masih memilih kehidupan dunia, belum bisa menghadap kepada Allah SWT, belum memilih Allah, dengan bukti masih cinta kepada harta benda, tidak suka mempergunakan harta benda untuk digunakan di jalan Allah. Kamu tidak menghargai anak yatim, tidak memberi makan kepada fakir miskin, masih membedakan antara orang kaya dan miskin. Apakah hasil dari dzikir kepada Allah?, apakah manfaatnya shalat?, apakah pengakuan sucimu?, terbukti bahwa kamu masih sangat kerap dengan kebiasaan dan cinta kepada harta benda.”[45]

Dengan pernyataan yang menggugah tersebut KH Ahmad dahlan sejatinya mengingatkan kita agar tidak mengalami disorientasi hidup. Kita diminta untuk selalu bermuhasabah tentang tujuan terjauh dari penciptaan dan kehidupan di dunia ini. Kata beliau,”Bagaimanakah akibatnya pada diriku di Hari Akhir? Apa gerangan yang menjadi kesudahan hidup ini di hadapan mahkamah Allah Yang Maha Agung?Apakah diriku akan disiksa karena aku tidak taat mengamalkan perintah-perintahNya?Ataukah aku akan mendapatkan keridlaanNya karena ikhlas beribadah kepadaNya serta sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW?.”

Di atas sebuah papan tulis, dekat dengan meja kerjanya, KH ahmad Dahlan menulis dalam bahasa Arab :

يَادَحْلاَنُ، إِنَّ اْلهَوْلَ أَعْظَمُ وَاْلأُمُوْرُ اْلمُفْظِعَاتُ أَمَامَكَ وَلاَبـُدَّلَكَ مِنْ مُشَاهَدَةِ ذَلِكَ إِمَّا بِالنَّجَاةِ وَإِمَّا بِاْلعَطَبِ…يَادَحْلاَنُ، قـَدِّرْ نَفْسَكَ مَعَ اللهِ وَحْدَكَ وَبَيْنَ يَدَيـْكَ ْالَموْتُ وَاْلعَرْضُ وَاْلحِسَابُ وَاْلجَنَّةُ وَالنَّارُ وَتَـأَمَّلْ فِيْـمَايـُدْنِـيْـكَ مِمَّا بَيْنَ يَدَيـْكَ وَدَعْ عَنْكَ مَاسِوَاهُ.[46]

Khatimah


Demikianlah pokok-pokok penafsiran KH Ahmad Dahlan rahimahullah atas kelompok pertama dari ayat-ayat al-Qur’an yang diriwayatkan oleh murid termuda beliau KRH Hadjid yang telah diterbitkan oleh Lembaga Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam mewarisi dan mengamalkan segala mutiara dan nilai kehidupan yang telah ditauladankan oleh para salafus sholih, al-sabiqun al-awwalun di Persyarikatan Muhammadiyah ini, yang barangkali, semakin hari semakin tidak menarik bagi sebagian di antara kita. Dan semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kezaliman kita terhadap mereka yang telah mengorbankan segala-galanya di jalan Allah SWT untuk sebuah cita-cita agung dan mulia “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا ًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Referensi :

[3] KRH Hadjid, “Muqaddimah” dalam Budi Setiawan dan Arief Budiman Ch. [Peny.] Pelajaran KHA Dahlan : 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an [Yogyakarta: LPI PPM, 2006], Cet. Ke-2, hal. 2-4

[4] KH Ahmad Dahlan diriwayatkan pula sering menukil perkataan ahli hikmah berikut ini :

الناس كلهم موتىَ إلا العلماء والعلماء متحيِّرون إلاالعاملون والعاملون على وجلٍ إلا المخلصون

[5] Selengkapnya ayat tersebut berbunyi :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

[“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”]

[6] Abdullah Ibn Abdul Muhsin Al-Turki (Isyraf), Al-Tafsir Al-Muyassar (Madinah Munaawarah : Mujamma’ Al-Malik Fahd Lithiba’ati Al-Mushhaf Al-Syarif, 1419), Cet. 1, hal. 501

[7] Al-Maktabah Al-Syamilah

[8] Ibid.

[9] “Jika sesorang mengawali hidupnya di pagi hari maka berkumpullah tiga perkara; hawa nafsu, amal dan ilmunya. Jika amalnya mengikuti hawa nafsu maka itulah hari amat buruk baginya. Adapun jika amal mengikuti ilmunya, maka itulah hari yang sangat baik dan menguntungkannya.”

[10] Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

[11] Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

[12] KRH Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan : … hal. 45-47

[13] سنن ابن ماجه [ جزء 2 - صفحة 1406 ]

4204 – حدثنا عبد الله بن سعيد حدثنا أبو خالد الأحمر عن كثير بن زيدس عن ربيح ابن عبد الرحمن بن أبي سعيد الخدري عن أبيه عن أبي سعيد قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نتذكر المسيح الدجال . فقال: ( ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ ) قال قلن بلى . فقال ( الشرك الخفي أن يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل ). في الزوائد إسناده حسن . وكثير بن زيد وربيح بن عبد الرحمن مختلف فيهما . قال الشيخ الألباني : حسن

[14] مسند أحمد بن حنبل [ جزء 4 - صفحة 403 ]

19622 – حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الله بن نمير ثنا عبد الملك يعنى بن أبي سليمان العزرمي عن أبي علي رجل من بنى كاهل قال خطبنا أبو موسى الأشعري فقال : يا أيها الناس اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل فقام إليه عبد الله بن حزن وقيس بن المضارب فقالا والله لتخرجن مما قلت أو لنأتين عمر مأذون لنا أو غير مأذون قال بل أخرج مما قلت خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال أيها الناس اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل فقال له من شاء الله ان يقول وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله قال قولوا اللهم انا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلم (تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده ضعيف لجهالة أبي علي الكاهلي).

صحيح الترغيب والترهيب للألباني [ جزء 1 - صفحة 9 ] 36 – ( حسن لغيره ) :عن أبي علي رجل من بني كاهل قال :خطبنا أبو موسى الأشعري فقال :يا أيها الناس اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل فقام إليه عبد الله بن حزن وقيس بن المضارب فقال : والله لتخرجن مما قلت أو لنأتين عمر مأذونا لنا أو غير مأذون فقال : بل أخرج مما قلت خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال :يا أيها الناس اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل فقال له من شاء الله أن يقول وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله قال قولوا اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلمه رواه أحمد والطبراني ورواته إلى أبي علي محتج بهم في الصحيح وأبو علي وثقه ابن حبان ولم أر أحدا جرحه. (المكتبة الشاملة)

[15] إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال قاتلت فيك حتى استشهدت قال كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك قال كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي في النار

[16] “…Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

[17] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di Bawah Naungan Al-Qur’ani, Terj. As’ad Yasin dkk. (Jakarta : Gema Insani Press, 1425 H), Cet. Pertama, hal. 141-142

[18] وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

[19] KRH Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan : … hal. 45-47

[20] Ibid…hal. 48

[21] Ibid…hal. 48-51

[22] Imam Al-Ghazali, Mengobati Penyakit Hati, Terjemah : Ahmad Sunarto [Jakarta: Pustaka Amani, 1995] Cet. Ke-1, hal.33

[23] Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

[24] Surat Ali Imran : 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

[25] [Surat Al-Fajr : 27-30] يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي

[26] [Al-Baqarah : 9 ] يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

[27] [Al-Qiyamah :2] وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَة ِ

[28][Yusuf :53] إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

[29] زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَآبِ(آل عمران : 14) فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا(مريم:59)

[30] “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Yusuf : 53]

[31] “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’la : 14-17]

[32] KRH Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan : … hal. 52-60

[33] Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.(Al-Hadid : 16)

[34] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’a Al-‘Adzim, IV/311

[35] Ibnu Juraimi, “Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Dakwah” dalam, Dakwah Islam Kontemporer; Tantangan dan Harapan (Yogyakarta: MTDK-PPM, 2004) Cet. 1, hal. 204

[36] Sa’id Hawa, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali; Mensucikan Jiwa, Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid (Jakarta: Robbani Press, 2000), Cet. Ke-3, hal. 100

[37] Sa’id Hawa, Intisari Ihya’ Ulumuddin … hal. 33

[38] ( أرأيتم لو أن نهرا بباب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمسا ما تقول ذلك يبقي من درنه ) . قالوا لا يبقى من درنه شيئا قال ( فذلك مثل الصلوات الخمس يمحو الله بها الخطايا ) HR Bukhari & Muslim

[39] “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. Juga firman Allah SWT dalam surat al-Ra’d ayat 28 berikut ini :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

[40] “ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”.Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.”

[41] Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme (Bandung : Hikmah, 2006), Cet. VII, hal. 73-75

[42] M Yusron Asrofie, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran & Kepemimpinannya (Yogyakarta: MPKSDI-PPM, 2005), Cet. 1, hal. 66

[43] Ibid. hal. 67

[44] KRH Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan : … hal. 57-58

[45] Ibid, hal. 58-59

[46] “Hai Dahlan, Sungguh bahaya yang menyusahkan itu lebih besar dan perkara-perkara yang mengejutkan ada di hadapanmu, dan pasti kau akan menemui kenyataan yang demikian itu, entah dengan selamat ataupun dengan kebinasaan. Hai Dahlan, bayangkanlah hanya dirimu sendiri berhadapan dengan Allah, sementara di depanmu ada maut yang menanti, ditampakkan segala urusan, penghitungan atas segala amal, juga ada surga dan ada neraka. Dan renungkanlah apa-apa yang mendekatimu dari sesuatu yang ada di hadapanmu, yaitu maut, dan tinggalkanlah dari dirimu selain itu.”

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 14 Mei 2012

Tanya Jawab Agama: Aurat Muslimah Terkait Mu'amalah dengan Non-Muslimah


Tanya:
Salam.mas mau tany,bener nda’ sih kalau perempuan non islam itu bukan muhrim sama perempuan muslim?,trus kalau iya ada hadis atau dalilnya?
0878391XXXXX

Jawab:
Sebelum menjawab pertanyaan saudara, kami kutipkan lebih dahulu ayat-ayat al-Qur’an yang ada kaitannya dengan masalah aurat, antara lain ialah:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". [QS. an-Nur (24): 30].

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan (menjaga) kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, ... [QS. an-Nur (24): 31].

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. al-Ahzab (33): 59].

Penjelasan
Dua ayat dari surat an-Nur, yaitu ayat 30 dan 31, tergolong ayat Madaniyah, sebab seluruh ayat dari surat an-Nur adalah Madaniyah (al-Qasimi, 1978, XII: 107). Adapun asbabun-nuzul kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Ayat 30 surat an-Nur
Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibnu Mardawaih dari Ali bin Abi Thalib r.a.; Pada masa Rasulullah saw ada seseorang berjalan di suatu jalan di Madinah, kemudian dia melihat seorang wanita dan wanita itu pun melihatnya, lalu syaitan pun mengganggu keduanya sehingga masing-masing melihatnya karena terpikat. Ketika laki-laki itu mendekati suatu tempat untuk mengintai wanita tersebut, hidungnya terbentur tembok hingga luka dan berdarah-darah. Lalu ia bersumpah demi Allah tidak akan membasuh darah itu sebelum bertemu Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa tersebut. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Itu adalah balasan dosamu”. Kemudian turunlah ayat 30 surat an-Nur ini.
b.      Ayat 31 surat an-Nur
Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibnu Katsir dari Muqatil Ibnu Hibban, dari Jabir Ibnu Abdillah al-Anshari, ia berkata: Saya menerima berita bahwa Jabir Ibnu Abdillah al-Anshari meriwayatkan bahwa Asma’ binti Martsad ketika berada di kebun kurma miliknya, datanglah beberapa orang wanita dengan tidak memakai pakaian yang rapi, sehingga tampak gelang kaki dan dada mereka. Maka berkatalah Asma’: “Ini tidak pantas”. Lalu turunlah ayat 31 surat an-Nur ini.

Ayat 30 ditujukan kepada kaum muslimin, sedangkan ayat 31 ditujukan kepada para mukminat. Sekalipun kedua ayat itu diiturunkan karena sebab tertentu, tetapi berlaku secara umum. Oleh karena itu larangan melihat atau menampakkan aurat ditujukan kepada semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.
Kedua ayat tersebut dikuatkan juga oleh hadits Nabi Muhammad saw:

أنَّ أسْمَاءَ بِنْتَ أبي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلّم وقال: يا أسْمَاءُ إنَّ الْمَرْأةَ إذَا بَلَغَتِ المَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ لَها أنْ يُرَى مِنْهَا إلاَّ هذَا وَهذَا، وَأشَارَ إلى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ. [رواه أبو داود عن عائشة].
Artinya: “Bahwa Asma’ binti Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah saw memakai baju yang tipis, kemudian beliau memalingkan pandangannya dari Asma’ dan berkata kepadanya: Hai Asma’, apabila perempuan sudah baligh, maka tidaklah pantas dilihat tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk kepada wajah dan kedua telapak tangannya” [HR. Abu Dawud dari Aisyah].

Hadits tersebut bukan hanya melarang menampakkan aurat, bahkan memakai pakaian tipis pun dilarang. Hadits tersebut juga memberikan pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan aurat, ialah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Para ulama sepakat bahwa larangan itu menunjukkan kepada haram. Maka menampakkan sebagian aurat kepada laki-laki yang bukan mahram bagi seorang wanita adalah haram dan berdosa. Dan sebaliknya, orang laki-laki pun haram menampakkan sebagian auratnya kepada wanita yang bukan mahram baginya. Sebab aurat hanya diperbolehkan dilihat oleh suami/ istri saja.

Mengenai pertanyaan saudara, yakni hukum wanita muslim memperlihatkan aurat pada wanita non muslim, Imam al-Qurtubi (Jâmi Ahkam al-Qur'an; 12:233) mengatakan aurat wanita muslim tidak boleh dilihat oleh perempuan non muslim kecuali oleh ibunya sendiri meski ibunya tersebut seorang kafir/ musyrikah. Ibnu Juraij, Ubadah bin Nasa dan Hisyam al-Qari' membenci seorang muslimah yang terbuka auratnya ketika menerima tamu seorang wanita nasrani. Sedangkan Ibnu Abbas berkata: "Haram bagi seorang muslimah terlihat auratnya oleh wanita-wanita Yahudi atau Nasrani, agar mereka tidak menceritakan (sifat) wanita muslimah tadi pada suami-suami wanita Yahudi atau Nasrani itu."  Demikian halnya dengan Umar bin Khatab ra., ia pernah menulis surat pada Abu Ubaidah yang berisikan larangan wanita muslim bercampur dengan wanita kafir/ musyrikah dalam sebuah pemandian (hamam) atau mandi bersama.

Menurut hemat kami, pada prinsipnya aurat wanita muslim memang tidak boleh dilihat baik oleh wanita muslim maupun non muslim. Hal ini dimaksudkan agar tidak timbul fitnah. Namun demikian, terkait kasus yang sering terjadi dan tidak bisa dihindari, yakni wanita muslim yang tinggal bersama wanita non muslim di sebuah asrama, dapat dikategorikan sebagai keadaan dlarurat yang memungkinkan untuk meninggalkan prinsip di atas. Sekalipun begitu, bukan berarti bahwa wanita muslim bersangkutan dapat secara bebas membuka auratnya. Dia tetap harus berupaya semaksimal mungkin menutupi auratnya, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

PD IPM Sleman membuka konsultasi tanya jawab agama via SMS ke Nomor 087738078585,
jawaban InsyaAllah dapat dipertanggungjawabkan.
 

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 12 Mei 2012

Tanya Jawab Agama: Hukum Meminum Bir

Tanya:

Sebenarnya bir itu halal atau haram??
Sekarang banyak dijual bir yang 0% alkohol, bagaimana hukumnya?
087839XXXXXX

Jawab:
Mengenai minuman yang disebut bir, bukanlah menjadi tugas kami atau para ahli fatwa untuk menguraikan unsur-unsurnya dan mengetahui kandungan spesifiknya. Kami  hanya dapat menyatakan bahwa organisasi negara-negara yang bertugas mencegah minuman keras telah memasukkan bir ke dalam daftar minuman terlarang yang harus diperangi. Pengertian khomr bukanlah segala sesuatu yang mengandung alkohol. Namun sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram.” (HR. Muslim no. 2003)



Bagaimana keadaannya, keadaan syar’iyah menyatakan bahwa:
Kata 'Umar bin Al Khottob,

وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ
Khomr adalah segala sesuatu yang dapat menutupi (mengacaukan) akal.” (HR. Bukhari no. 5581 dan Muslim no. 3032)

Hukum meminum sedikit khomr dan tidak memabukkan disebutkan dalam hadits,

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ
Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram.” (HR. Abu Daud no. 3681, At Tirmidzi no. 1865, An Nasa-i no. 5607, Ibnu Majah no. 3393. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Ghoyatul Marom 58)

Standar memabukkan atau tidak adalah dilihat dari orang yang normal, bukan dari orang yang sering mabuk. Ini catatan penting yang perlu diperhatikan. Hal ini berdasarkan kaedah syar'iyah:

setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr terhukum haram; dan apa saja yang jika dalam jumlah banyak memabukkan, maka dalam jumlah sedikit pun terhukum haram”

Di dalam hadits muttafaq ‘alaih, dari Abu Musa, ia berkata:

Wahai Rasulullah, berilah fatwa kepada kami mengenai dua macam minuman yang kami buat di Yaman, yakni ‘al-bata’ yang dibuat dari madu dan dibiarkan hingga mengeras, dan ‘al-mazar’ yang dibuat dari jagung dan gandum yang dibiarkan hingga mengeras.”  Lalu Abu Musa menuturkan bahwa Rasulullah memberi kalimat-kalimat yang lengka dengan semua kesudahannya, dan beliau bersabda, “segala sesuatu yang memabukkan itu haram” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

MUI telah meneliti permasalahan ini, dan ternyata meskipun mengandung alkohol sampai 7-10%, akan tetapi tidak ada satupun pihak yang melaporkan bahwa tape memabukkan. Oleh sebab itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memfatwakan bahwa tape (tape ketela, tape ketan, brem Madiun, dll.) hukumnya adalah halal.

Begitu pula dengan buah-buahan yang mengandung alkohol tinggi (4-8%) seperti : durian, lengkeng, sirsak, nangka, dll. Ternyata tidak ada satupun ayat Qur’an maupun Hadits Nabi SAW. yang mengharamkan buah-buahan tersebut. Mengapa? Karena ketika kita konsumsi dalam jumlah banyak, ternyata hal tersebut tidak menjadikan kita mabuk atau kehilangan akal/kesadaran.

Sebaliknya, meskipun tidak mengandung alkohol sama sekali (benarkah?!), akan tetapi, karena Bir Bintang 0% alkohol dan Greensand 0% alkohol tetap memabukkan, maka kedua jenis produk tersebut dihukumi haram oleh MUI Pusat.

Mengapa MUI Pusat menghukumi kedua jenis produk tersebut haram? Alasannya adalah kedua jenis produk tersebut memenuhi salah satu kaidah fiqih dalam penetapan hukum (haram) :
 *
Al hukmu yadluru ma’al illati (Hukum itu ditetapkan karena ada sebab). Karena beberapa pihak melaporkan bahwa ternyata ketika mengkonsumsi Bir Bintang 0% alkohol atau Greensand 0% alkohol tetap merasa mabuk, maka kedua jenis produk tersebut akhirnya dihukumi haram!
2.      *Al washilatu illa haramun haram (Segala sesuatu yang menyerupai suatu produk haram maka dihukumi haram). Oleh sebab itu, pengimitasian pada produk haram (bir) menjadikan kedua jenis produk tersebut dihukumi haram!

Allah telah berjanji di neraka akan memberi minum dengan thinatul khabal kepada orang yang meminum minuman keras. Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ‘thinatul khabal’ itu? Rasulullah menjawab, “Yaitu keringat dan nanah ahli neraka” (HR Ahmad, Muslim, dan Nasa’i)

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat khamr, peminumnya, yang menuangkannya, yang memerasnya, yang menyuruh memeras, yang membawanya (distributor), yang dibawakan (agen), penjualnya, pembelinya, dan yang memakan hasilnya.” (HR. Abu Dawud).

Terlepas benar atau salahnya ulasan di atas, Rasulullah telah memberi sinyal akan datangnya produk syubhat seperti bir ini. Dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda:
“Sungguh akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr dan menamainya dengan yang bukan namanya” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Sumber:
Fatwa-fatwa kontemporer, Yusuf Qardhawi
Putusan Majelis Ulama Indonesia


PD IPM Sleman membuka konsultasi tanya jawab agama via SMS ke Nomor 087738078585,
jawaban InsyaAllah dapat dipertanggungjawabkan.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 09 Mei 2012

Nasib Kaum Homo & Lesbi (Sejarah, Perkembangan , & Refleksi)


Homo monument atau tugu peringatan perjuangan kaum gay dan lesbian di Netherlands (Belanda) didirikan tahun 1987, berada di jalan Westermarkt -tepat di tengah kota Amsterdam. Tugu ini di desain berdasarkan inspirasi, pengalaman sejarah kaum homoseksual di masa lalu sebagai simbol perjuangan mereka melawan homophobic (kelompok yang membenci homoseksual, yang berusaha menghancurkan keberadaan kaum homoseksual dengan beragam cara). Juga merupakan memori/peringatan bagi kaum laki-laki dan perempuan yang di hukum mati karena perasaan homoseksual mereka. Homo monument adalah simbol kehidupan sekaligus eksistensi kaum homoseksual. Bagaimana bentuk monument ini? Apa latar belakang sejarah dari pembuatan monument ini? untuk mengenalnya, mari kita meneropong latar belakang/sejarahnya di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

LATAR BELAKANG

Dalam sejarahnya di masa lalu, keberadaan kaum homoseksual di Barat (Eropa) bukan hanya dilarang oleh masyarakat dan institusi agama, tetapi juga dilarang secara hukum atau dikriminalkan oleh negara. Dengan dasar pembenaran/interpretasi dari teks Injil/ajaran Kristiani (kisah Sodom dan Gomora), kaum homoseksual dianggap sebagai kaum yang berdosa dan dikutuk oleh Tuhan sehingga harus dimusnahkan. Karenanya di masa itu, seseorang yang kedapatan homoseksual akan di hukum sampai mati oleh keluarganya atau oleh masyarakat sekitar juga oleh negara sesuai dengan Undang-Undang/hukum yang diberlakukan. Ini terjadi juga di Netherlands/Belanda pada tahun 1730-an, dimana kaum gay dan lesbian mengalami banyak sekali kekerasan baik dari keluarga, masyarakat, institusi agama, dan negara.

Pada tahun 1933 ketika Nazi berkuasa di Jerman selain kaum Yahudi dan Roma, kaum homoseksual (laki-laki dan perempuan) juga dianggap sebagai kaum yang berbahaya bagi Jerman. Sekitar 50.000 orang dipenjarakan dalam kamp-kamp penyiksaan Nazi karena mereka homoseksual dan beberapa ribu orang diantaranya mati di dalam kamp tersebut karena kelaparan dan penyiksaan. Sementara di luar Jerman (negara-negara Eropa lainnya), pembantaian terhadap komunitas homoseksual juga terus terjadi.

Pada tahun 1960-an kaum gay dan lesbian (hampir diseluruh Eropa) secara tegas menuntut persamaan hak yang sama dengan warga negara lainnya tanpa membedakan orientasi seksual. Di Amsterdam, pada tanggal 4 Mei 1970, Aksi Kelompok Gay Muda Amsterdam (Amsterdamse Jongeren Aktiegroep Homoseksualiteit) melakukan aksi peringatan nasional terhadap korban-korban kekerasan yang meninggal karena orientasi seksualnya, aksi ini dilakukan di Bundaran Dam (tugu peringatan perang dunia ke II yang mengorbankan nyawa ribuan orang secara sia-sia terletak di jalan Damrak pusat kota Asterdam) namun polisi membubarkan aksi ini dan menangkap beberapa aktivis dengan tuduhan telah mengganggu ketertiban umum.

IDE MENDIRIKAN MONUMENT
Pada bulan Mei 1979, kelompok gay dari Partai Sosialist Pasifist (The gay group of the Pasifist Socialist Party) berinisiatif untuk mendirikan sebuah monument peringatan bagi kaum homoseksual. Para penggagas ide ini adalah anggota dari Center for Culture and Recreation sebuah organisasi gay dan lesbian pertama di Amsterdam yang didirikan tahun 1946. Organisasi ini beranggotakan individu dan juga organisasi khusus untuk gay dan lesbian.

Ide ini mendapatkan dukungan dari kelompok gay dan lesbian, baik individu maupun kelompok yang terdiri 7152 group lesbian dan gay juga seluruh partai politik dari aliran kiri dan kanan. Ide ini juga mendapatkan dukungan dan antusiasme dari dunia Internasional. Untuk merealisasikannya, dilakukan pencarian dana dengan membentuk Komite pencarian dana (Fund Raising Committee) yang beranggotakan para aktivis gay dan lesbian, politisi, seniman, dan aktivis keagamaan.

Setelah selama 8 tahun menggalang dana, terkumpul sekitar 180.000 Euro, hasil sumbangan dari individu, organisasi gay/lesbian, dan kegiatan-kegiatan seperti festival seni di musim semi, festival paradiso tahun 1980, festival homomonu-month pada oktober 1981, pementasan Night Before Day Break Desember 1986. Kemudian Parlemen Belanda menyumbang 45.500 Euro ketika kontrusksi monument sudah mulai dipasang. Kota Amsterdam, Provinsi North Holland, dan Perdana Menteri juga memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pembangunan monument ini.

DESAIN
Namun yang terpenting dari rencana pembuatan monument ini adalah simbol perjuangan homoseksual laki-laki dan perempuan. Monument ini bukan monumen biasa, tidak didirikan di sudut jalanan ataupun di tempat yang gelap. Monument ini berada ditengah-tengah kota yang terang dan hidup. Ia juga bukan simbol dari pemberontakan terhadap kaum Nazi di masa lalu, tetapi opresi/penindasan di masa itu terhadap kaum homoseksual. Homomonument ini terdiri dari tiga dimensi, yaitu: sebuah peringatan di masa lalu, sebuah pengakuan dan perdebatan di masa sekarang, dan inspirasi di masa yang akan datang. Dengan aspek-aspek tersebut, dibuatlah perlombaan desain monument yang dibuka untuk umum dan para seniman.

Seusai penyeleksian hasil desain monument, para Juri mengumumkan bahwa desain yang terpilih adalah karya Karin Daan. Karin mendesain 3 buah monument berbentuk segitiga (triangle). Yang pertama dibuat dengan dasar dan konsep elemen (berundak/bertangga-tangga). Kedua, triangle tanpa undakan yang berada di atas permukaan tanah. Ketiga, triangle dengan tinggi 60 cm dari permukaan tanah. Bahan dasar keseluruhan dari monument ini adalah batu granit berwarna pink. Desain ini dianggap cocok, mengingat bentuk pink triangle bukan sesuatu yang asing bagi kaum homoseksual laki-laki dan perempuan. Simbol ini memang mempunyai arti dan sejarah tersendiri bagi kaum homoseksual.

Pink triangle pada masa Nazi adalah simbol atau tanda bagi laki-laki yang homoseksual di kamp-kamp konsentrasi untuk dibedakan dari laki-laki yang heteroseksual. Sedangkan pada tahun 1970-an pink triangle ini menjadi atribut/tanda yang dikenakan (dalam bentuk pin/peniti, bordiran, dll) oleh kaum gay dan lesbian untuk mengenali satu dengan yang lainnya.

KONSTRUKSI
Pada tanggal 28 April 1987, pembangunan di mulai. Salah satu anggota Dewan Seni Amsterdam dari partai Kristen Demokrat (Christian Democrat party) meletakan batu pertama, sebagai tanda pembangunan monument telah dimulai.

Monument pertama dengan konsep elemen ditempatkan dipinggir kanal sebagai titik sentral yang menyimbolkan eksistensi kaum gay dan lesbian di masa lalu (simbol opresi). Dimana kaum gay dan lesbian harus menghadapi sejarah gelap dan pahit karena pilihan orientasi seksualnya. Mereka disiksa, dilecehkan, dan bahkan tidak sedikit yang mati dibunuh. Monument ini sekaligus juga memperingati perang dunia ke II yang terjadi di Dam, yang menewaskan banyak korban termasuk kaum gay dan lesbian.

Monument kedua dibangun di samping gedung Anne Frank Huis -sebagai titik central perjuangan melawan fasisme, anti semitism, dan rasisme- berada dipermukaan tanah dengan garis puisi membentuk segitiga bertuliskan "Naar Vriendschap Zulk Een Mateloos Verlangenâ" (terjemahan dalam bahasa Inggris "Such an unlimited longing for friendship") yaitu suatu keinginan/ dorongan persahabatan (homoseksual) yang kuat tanpa batas. Garis puisi ini diambil dari puisi karya Jacob Isra de Haan (1881-1924). Monumen ini menyimbolkan sebuah pengakuan eksistensi homoseksual dan perdebatannya di masa sekarang. Walau hampir di banyak negara di Eropa eksistensi kaum homoseksual mendapatkan kebebasan dan dilindungi hak nya secara hukum, namun tetap saja keberadaannya menjadi perdebatan pro dan kontra dari banyak kalangan. Kaum homoseksual belum merdeka sepenuhnya di masa sekarang. Dan kalau kita menengok lagi ke bagian negara-negara lainnya di seluruh dunia (Asia, misalnya), maka kaum homoseksual tetap menjadi kaum marginal yang diperlakukan secara tidak adil dalam segala bidang kehidupan, hanya karena pilihan orientasi seksualnya.

Monument ketiga dibuat lebih tinggi 60 cm dari permukaan tanah, dibangun dekat gedung COC (Cultuur en Ontspannings-Centrum, atau dalam bahasa Inggris Centre for Culture and Leisure) yang menjadi center gerakan kaum gay dan lesbian. Monument ini menyimbolkan refleksi gerakan gay dan lesbian di masa yang akan datang. Menjadi sebuah harapan, bahwa kaum homoseksual di masa yang akan datang, mendapatkan kemerdekaannya secara merata diseluruh dunia (termasuk Indonesia, dan negara-negara asia lainnya, tentu saja).
Setelah pembangunan selesai secara keseluruhan, pada tanggal 5 September 1987, monument yang diberi nama Homomonument- resmi dibuka untuk umum. Dan sejak itu pula, Homomonument menjadi tempat rekreasi yang tak pernah sepi dari pengunjung. Baik orang Belanda sendiri, juga turis-turis dari banyak Negara, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki dan perempuan, pasti menyempatkan diri untuk berkunjung ke homo monument. Mereka belajar dari sejarah masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, untuk saling menghormati hak asasi setiap orang termasuk pilihan seksualitasnya.

Pompeii: Mengulang Sejarah Kaum Luth
Alqur'an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah.
"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa

selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu" (QS. Al-Faathir, 35:42-43).

Begitulah, "Sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah". Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai 'The Mountain of Warning' (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gomorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.
Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumi hanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung.

Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi 2000 tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut.

Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorangpun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG.

Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejap.
Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur'an, sebab Alqur'an secara khusus mengisyaratkan 'pemusnahan secara tiba-tiba' ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, 'penduduk suatu negeri' sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

'Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.' (QS. Yaasiin, 36:29)
Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:
'Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.'

Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat, persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa (busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai 'surga kaum homoseks' di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.
Jumat, 08 Desember 2006

KAUM YANG DIJUNGKIRBALIKKAN
Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung itu juga dinamai "The Mountain of Warning" (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth AS, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan mahadahsyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota.

Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya. Catatan sejarah menunjukkan, kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak terhitung lagi.
Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut.

Jasad-jasad seperti diawetkan oleh alam dan masih bisa disaksikan hingga hari ini. Wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan, makanan, terawetkan mulai pada detik pertama musibah terjadi.

Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama; mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih belia.

Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab. Sama dengan kisah Alquran

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alquran, sebab Alquran secara khusus mengisyaratkan "pemusnahan secara tiba-tiba" ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, "penduduk suatu negeri" sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut: "Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati." (QS. Yaasiin [36]: 29)

Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan: "Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang." Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Pulau Capritetap menjadi tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai "surga kaum homoseks" di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

Padahal, Alquran mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah (sunnatullah): "Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu" (QS Al Faathir [35]: 42-43). Begitulah, "...sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah...". Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama.

TENTANG GUNUNG VISAVIUS
Hari ini hampir 2000 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Agustus tahun 79, terjadi letusan dahsyat gunung Vesuvius tak jauh dari ujung selatan Italia. Konon letusan itu adalah yang pertama setelah gunung api tersebut tertidur lelap selama berabad-abad.
Gunung Vesuvius yang menurut legenda berarti "Putra Ves/Zeus" alias Hercules, terletak di kawasan Campagnia dekat Teluk Napoli, tak jauh dari kota industri dan perdagangan Pompeii yang ketika itu berpenduduk lebih dari 20 ribu jiwa. Tak jauh dari sana juga terdapat kota peristirahatan musim panas, Herculaneum, yang dipenuhi villa, pemandian ala Romawi, dan tak lupa perjudian. Di sekitarnya dapat dijumpai perkebunan anggur yang luas, juga beberapa kota kecil seperti Stabiae.

Letusan pada tahun 79 ini diawali oleh sebuah gempa besar pada tahun 62. Tetapi bangsa Romawi pada masa itu tidak menghubungkan gempa dengan aktivitas gunung berapi. Mungkin ini karena mereka, terutama di Campagnia, sudah terbiasa dengan banyaknya getaran dan goncangan bumi, kecil dan besar.

Menjelang tengah hari tanggal 24 Agustus, Vesuvius meledak, menghamburkan gumpalan abu tebal yang bisa digambarkan menyerupai jamur atau pohon cemara. Seperti digambarkan Pliny The Younger, filsuf yang sedang berada di Teluk Napoli pada saat letusan terjadi, dalam suratnya kepada Tacitus, abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis setebal beberapa sentimeter.

Penduduk Pompeii panik dan mulai mengungsi ke luar kota, menyisakan 2000 orang yang masih bertahan dalam lubang-lubang persembunyian menanti letusan gunung berakhir. Tapi selambat-lambatnya pada keesokan harinya, mereka tewas karena keracunan setelah menghirup gas dan abu vulkanis.

Sementara Herculaneum sementara masih terselamatkan pada fase awal karena angin bertiup dari arah Barat. Tetapi penduduk Herculaneum yang sesungguhnya terletak lebih dekat dengan Vesuvius, tak sempat lega terlalu lama. Gumpalan abu dan gas diikuti oleh letusan lava dan bebatuan menenggelamkan kota itu hingga lebih dari 20 meter. Suhu yang mencapai 400 derajat Celcius membuat benda organik seperti tubuh manusia menghangus, atau bahkan meledak.

Letusan berlangsung selama hampir 24 jam, di mana Vesuvius melepaskan 4 kilometer kubik kandungannya, terutama abu dan bebatuan. Kawasan yang menderita kerusakan paling parah adalah kawasan di selatan dan tenggara gunung itu. Jumlah keseluruhan korban yang meninggal dunia mencapai 10 ribu orang.

Pompeii dan Herculaneum ternyata tak pernah dibangun kembali oleh para -bekas- penduduknya yang selamat, hingga secara kebetulan ditemukan kembali pada abad ke-18. Tetapi Vesuvius kini masih berdiri tegak. Ia masih sempat meletus puluhan kali hingga terakhir kalinya pada tahun 1944. Walaupun tinggi puncaknya saat ini hanya 1281 meter dari permukaan laut, satu-satunya gunung berapi benua Eropa yang masih aktif ini akan selalu mengingatkan akan ganasnya alam yang dapat memusnahkan sebuah kota. Dan kita, penduduk Indonesia, sewajarnya juga mengingat bahwa gunung-gunung berapi di sekitar kita harus selalu diwaspadai aktivitasnya. Terlebih lagi, karena Indonesia masih memegang rekor jumlah korban tewas terbanyak akibat letusan gunung berapi, yaitu letusan Gunung Tambora (Sumbawa, April 1815) yang mengambil 92 ribu jiwa.

Sumber :
Brosur Homomonument dan Pink Point, 20022.
www.homomonument.info.
www.glbt.com/arts/homomonument.html
Sejarah & Perkembangan Kaum Homo & Lesbi: Oleh  RR. Agustine
-Koordinator Divisi Informasi dan Dokumentasi Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia
-Koordinator Ardhanary Institute (LBT Publishes, Research and Advocacy Center)
Pompeii: Mengulang Sejarah Kaum Luth: Oleh Harun Yahya 

[+/-] Selengkapnya...